PENENTUAN BESI (III) DALAM AIR MINUM BOTTLE FILLING STATION SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS DOUBLE BEAM

 PENENTUAN BESI (III) DALAM AIR MINUM BOTTLE FILLING STATION SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS DOUBLE BEAM 

A. TUJUAN 

1. Dapat melakukan analisis Fe (III) pada contoh sampel 

2. Dapat melakukan teknik kurva kalibrasi 

3. Dapat mengoperasikan alat Spektrofotometer UV-Vis Double Beam

4. Dapat menginterpretasikan hasil analisis Fe (III) pada sampel 

B. PENDAHULUAN 

Air yang layak konsumsi memiliki ciri tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa dan tidak ada endapan padat terlarut. Salah satu logam berat yang berbahaya bagi kesehatan jika terkandung dalam air adalah besi (III). Besi merupakan salah satu logam berat dalam kadar rendah yang sering ditemukan di air. Standar konsentrasi maksimum besi di dalam air minum sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI tahun 2010 yaitu 0,3 mg/L. Bila Kadar besi melebihi batas dari yang ditetapkan pemerintah, maka bila air dikonsumsi secara terus menerus dalam jangka waktu lama dapat mengakibatkan sirosis pada hati, hemochromatosis, diare, lethargy, coma, irritability, seizures, dan sakit perut (Ahmed, 2009). 

Analisis kandungan besi (III) pada air minum dalam bottle filling station, menjadi penting untuk memastikan kualitas dan keamanannya. Sebagian besar sistem distribusi air pada bottle filling stations menggunakan bahan seperti aluminium dan baja tahan karat. Meskipun aluminium memiliki lapisan oksida pelindung, kontak dengan air yang bersifat korosif, seperti air dengan pH rendah atau kandungan garam tinggi dapat menyebabkan pelepasan logam ke dalam air. Tahap pengujian kadar besi (III) dalam air ini secara spektrofotometri UV-Vis. 

Metode analisis spektrofotometri UV-Vis dipilih karena mendeteksi ion besi (III) secara cepat, akurat, dan sensitif. Dalam analisis ini, Kalium Tiosianat (KSCN) digunakan sebagai pengompleks, menghasilkan senyawa kompleks berwarna yang dapat diukur absorbansinya pada panjang gelombang tertentu. Namun, metode

spektrofotometri UV-Vis dengan KSCN sebagai pengompleks memiliki beberapa kekurangan, terutama untuk menganalisis Fe³pada kadar rendah seperti 0,3 mg/L , yang merupakan batas maksimum besi (III) air minum. Sensitivitas metode ini terbatas, sehingga mendeteksi konsentrasi sangat rendah dapat menjadi kurang akurat tanpa penguatan sinyal. Selain itu, ion lain seperti Cu², Mn², atau Cr³yang terdapat dalam air dapat mengganggu pembentukan kompleks Fe³KSCN dan mempengaruhi hasil pengukuran. 

C. ALAT DAN BAHAN 

Alat : 

1. Gelas beaker 100 mL, 500 mL 

2. Labu ukur 100 mL, 50 mL, 25 mL 

3. Pro-pipet 

4. Pengaduk kaca 

5. Kaca arloji 

6. Pipet ukur 10 mL, 5 mL, 1 mL 

7. Kuvet 

8. Spektrofotometri UV-Vis Double Beam merk hitachi 

9. Spatula 

Bahan : 

1. KMnO4 

2. H2SO4 pekat 

3. Fe(NO3)3 (jika tidak ada, bisa digunakan FeCl3) 

4. KSCN 

5. HNO3 pekat 

6. Akuades 

7. Kertas seka 

8. Tisu 

9. Label 

D. PROSEDUR KERJA 

1.Pembuatan Larutan Induk Fe (III) 100 ppm

Ditimbang 0,0217 gram Fe(NO3)3 untuk membuat 50 mL Fe(III) 100 ppm. Dilarutkan dengan sedikit akuades di dalam gelas beaker dan dipindahkan ke dalam labu ukur 50 mL. Diencerkan dengan akuades sampai tanda batas, ditera, diseka dan dihomogenkan. 

2.Pembuatan Larutan KSCN 20 ppm 

Ditimbang sejumlah KSCN untuk membuat larutan KSCN 20 ppm. Dilarutkan dengan sedikit akuades didalam gelas beaker, kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL. Diencerkan dengan akuades sampai tanda batas, ditera, diseka dan dihomogenkan. 

3.Pembuatan Larutan HNO3 

Dipipet sejumlah larutan HNO3 pekat untuk membuat larutan 100 mL larutan HNO3 2 M. Dilarutkan dengan sedikit akuades sampai tanda batas, ditera, diseka dan dihomogenkan. 

4.Pembuatan Kurva Kalibrasi 

Dibuat larutan logam besi Fe (III) 10 mg/L sebanyak 100 mL dari larutan baku logam Fe(III) 1000 mg/L dalam labu ukur 25 mL. Dilakukan penambahan larutan yang sama 4 mL larutan KSCN dan 2,5 mL larutan HNO3. Tetapi untuk labu ukur 2 ditambahkan 1,25 mL larutan Fe (III) 10 ppm. Labu ukur 3 ditambahkan 2,50 mL larufan Fe (III) 10 ppm. Labu ukur 4 ditambahkan 5,00 mL larutan Fe(III) 10 ppm. Labu 5 ditambahkan 7,50 mL larutan Fe 10 ppm. Labu ukur 6 ditambahkan larutan Fe (III) 10 ppm sebanyak 10 mL dan labu 7 ditambahkan sebanyak 15 mL larutan Fe 10 ppm. Diencerkan sampai tanda tera dengan akuades. Didiamkan 5-10 menit sampai kompleks warna stabil. Diukur serapannya menggunakan spektrometer UV-Vis pada panjang gelombang 457 nm dengan larutan pada labu ukur 1 sebagai blanko. Ditentukan konsentrasi Fe (III) pada contoh uji dengan teknik kurva kalibrasi. 

5.Pembuatan Kurva Adisi Standar

Dibuat sebanyak 100 mL larutan Fe (III) 10 ppm dari larutan induk Fe (III) 100 ppm. Disiapkan 6 labu ukur 25 mL dan dibuat larutan deret standar. Setiap labu ukur ditambahkan 4 mL larutan KSCN dan 2,5 mL larutan HNO3 dan contoh uji 5 mL. Untuk labu 1 dan 2 tidak ada penambahan larutan Fe (III) 10 ppm. Labu 3 sampai 6 Berturut-turut ditambahkan 1,2,4 dan 8 mL larutan Fe (III) 10 ppm. Diencerkan sampai tanda tera dengan akuades dan dihomogenkan. Didiamkan 5-10 menit sampai kompleks warna stabil. Diukur serapannya menggunakan menggunakan spektrometer UV-Vis pada panjang gelombang 457 dengan larutan pada labu 1 sebagai blanko. Ditentukan konsentrasi Fe(III) pada contoh uji dengan teknik adisi standar. 

E. DAFTAR PUSTAKA 

Ahmed, MJ., and Roy, UK. 2009. A Simple Spectrophotometric Method for The Determination of Iron (II) Aqueous Solutions. Turk J Chem. 33, 709 – 726. 

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492/MEN-KES/PER/IV/2010 tentang             Persyarata Kualitas Air Minum. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

INSTRUMEN TRANSMISSION ELECTRON MICROSCOPY (TEM)

MIKROPLASTIK